Penulis : Dr. Susianah Affandy
(Tim Ahli Kowani, Pemimpin Redaksi Kartini Indonesia.Com)
Nyi Hajar Dewantoro (Raden Ajeng Sutartinah, 1890-1971) merupakan tokoh pendidikan, pendamping setia Ki Hajar Dewantoro, dan pionir pergerakan perempuan Indonesia. Sebagai putri bangsawan Pakualaman Yogyakarta, ia menamatkan Europeesche Lagere School (ELS) dan berprofesi sebagai guru sebelum menikah.
Kiprah perjuangannya dimulai dengan mendampingi Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantoro) dalam pembuangan ke Belanda (1913-1919) akibat aktivitas politiknya. Di pengasingan, ia tak hanya memberikan dukungan moral tetapi juga berkontribusi aktif dengan bekerja sebagai guru, berpartisipasi dalam kegiatan kebudayaan, dan bersama suami mendirikan Indonesische Pers Bureau untuk menyebarkan informasi perjuangan kemerdekaan Indonesia di Eropa, sekaligus menolak bantuan yang dapat mengkompromikan prinsip perjuangan.
Setelah kembali ke tanah air, ia bersama suami mendirikan Perguruan Taman Siswa (1922). Nyi Hajar secara khusus membidangi pendirian dan kepemimpinan Wanita Taman Siswa, organisasi perempuan di bawah Taman Siswa, serta membina Taman Indria (TK) dan Taman Muda (SD). Ia merupakan salah satu dari trio inisiator Kongres Perempuan Indonesia Pertama (1928) bersama R.A. Sukonto dan R.A. Suyatin, dan berpidato dalam kongres tersebut.
Saat pemerintah kolonial Belanda menerapkan Ordonansi Sekolah Liar yang membatasi sekolah swasta, Nyi Hajar memimpin strategi “gerilya pendidikan” dengan mengirim guru secara bergiliran mengajar ke rumah-rumah murid, semboyan “Patah Tumbuh Hilang Berganti”. Aksi heroik ini berhasil mematahkan kebijakan represif tersebut dan mendapatkan simpati luas.
Setelah wafatnya Ki Hajar Dewantoro pada 1959, Nyi Hajar ditunjuk sebagai Pemimpin Umum Taman Siswa menggantikan suaminya di tengah gejolak ideologi internal. Dengan kebijaksanaan, ketegasan, dan pendekatan keibuan, ia berhasil meredam konflik dan memulihkan persatuan di tubuh Taman Siswa. Ia memimpin Taman Siswa hingga 1970 dan turut mendirikan serta menjadi Rektor Universitas Sarjana Wiyata Taman Siswa (1965).
Atas pengabdian sepanjang hidupnya, Nyi Hajar Dewantoro dianugerahi gelar Perintis Pergerakan Kebangsaan dan Kemerdekaan RI (1961) dan Tanda Kehormatan Satya Lencana Kebudayaan (1968). Ia meninggalkan warisan sebagai sosok pendidik, pemersatu, dan pejuang yang tak tergantikan dalam sejarah pendidikan dan pergerakan perempuan Indonesia.
Foto : Wikimedia Commons
Tentang Kami :
Kartini Indonesia adalah komunitas para cerdik pandai dalam wadah tukar gagasan tentang permasalahan pergerakan perempuan Indonesia, sosial, budaya, ekonomi dan politik kebangsaan. Tujuan berdirinya Kartini Indonesia adalah menjembatani antara gap permasalahan dengan cita-cita pergerakan perempuan Indonesia melalui kegiatan kajian, analisa sosial, riset, lokakarya dan kampanye dan pemberdayaan Masyarakat.